Jumat, 02 Agustus 2013

Pelayanan bukan dari umur tetapi dari hati

Dari kesaksian ini, kita dapat melihat 2 orang gadis yang berumur 11 tahun, yang setia untuk melayani dan menjadi berkat bagi orang-orang dewasa. Ini berarti bukan karena umur kita menjadi halangan untuk kita melayani, melainkan apakah kita melayani dengan sepenuh hati atau tidak.

Dua Gadis Umur Sebelas Tahun
Sewaktu remaja, saya senang mendengar lagu yang isinya kira-kira demikian: "Ada dua gadis yang menarik hati. Cantiknya, cantik kamu. Baiknya, baik dia." Lagu tersebut mengungkapkan bahwa suatu saat, seorang pria bingung menentukan satu dari dua gadis.

Di Tiongkok, saya pun benar-benar bertemu dengan dua gadis. Umurnya sama-sama 11 tahun. Mereka bukannya membuat saya bingung harus memilih yang mana, melainkan kagum akan semangat mereka. Saya kagum akan karya Tuhan yang luar biasa sehingga anak umur 11 tahun pun bisa melakukan yang mulia untuk Dia.


Mereka hidup sama-sama untuk Tuhan. Mereka sama-sama melayani Tuhan dan sungguh menjadi berkat. Yang sungguh membuat mereka berdua istimewa di mata saya adalah kemurnian hati mereka dalam melayani Tuhan dan semangat mereka dalam mengembangkan talenta. Mereka memaksimalkan yang ada pada mereka ketimbang mengeluh tentang yang tidak ada pada mereka.

Gadis kecil pertama yang ingin saya ceritakan adalah Elisabeth. Ketika sampai di satu tempat, saya sedikit terkejut melihatnya begitu terampil dalam mengajar sekolah minggu, walau usianya masih 11 tahun. Murid-muridnya mulai umur 1 sampai 7 tahun. Ia sayang sekali pada mereka. Ia terampil dalam menggunakan alat-alat peraga dan dalam mengajak anak-anak untuk beraktivitas. Yang paling membuat saya terpesona adalah anak-anak balita senang diajar olehnya.

Wajar bagi anak-anak balita jika mereka ribut dan tidak bisa duduk tenang dalam mengikuti sekolah minggu. Elisabeth selalu mencoba mengatasi dengan kreatif, seperti menyuruh anak-anak yang super aktif untuk membuat gambar di kertas atau papan kecil. Setelah anak tersebut menggambar, baru ia melanjutkan ceritanya dan anak-anak bisa duduk tenang walau hanya sebentar.

Kadang ia melakukan aktivitas menggunting kertas bersama murid-muridnya sambil menceritakan cerita yang sudah dipersiapkannya.

Tidak ada "babysitter" yang menunggu anak-anak kecil seperti banyak sekolah minggu di gereja-gereja Indonesia. Tidak ada juga orang dewasa yang mendampinginya. Bahkan ia sendiri tidak pernah mengikuti pelatihan guru sekolah minggu, tetapi ia selalu berusaha mengatasinya dengan baik.

Terkadang saya juga melihat anak-anak sungguh tidak bisa dikendalikannya, tetapi itu jarang terjadi. Walaupun anak-anak sukar dikendalikan, itu tidak membuatnya jera dan putus asa.

Setelah selesai sekolah minggu, ia akan bertanya kepada mamanya tentang cara mengatasi anak-anak jika mereka begini atau begitu. Semangat dan kesaksian hidup Elisabeth dan karya yang dikerjakannya sungguh membuat saya kagum pada Tuhan Yesus.

Bertindak secara kreatif
Tuhan bisa memakai anak kecil berumur 11 tahun untuk bertindak secara kreatif dan bertanggung jawab dalam melakukan pelayanan sekolah minggu. Tuhan bisa mencurahkan kemampuan dan hikmat-Nya bagi orang yang ingin melayani-Nya secara murni, walau Elisabeth masih tergolong anak-anak.

"Jangan lupa minggu depan datang lagi dan bawa teman ke sekolah minggu, ya." Demikian ia melepas anak-anak kepada orang tua mereka dan pulang ke rumah masing-masing.

Gadis kecil kedua bernama Lidya. Papanya tukang masak di sebuah asrama kecil. Mamanya pembantu rumah tangga. Saya tinggal di depan rumah mereka. Lidya senang mendengarkan ketika saya sedang memainkan gitar sambil bernyanyi. Melihat tatapan matanya, saya mengerti bahwa ia juga ingin bisa memainkan gitar sambil bernyanyi. Saya ingin membantunya dengan senang hati. Namun, di antara saya dan dia ada jurang yang dalam -- kendala bahasa.

Waktu itu keluarga saya baru tiba di Tiongkok dan belum lancar berbahasa Tionghoa. Lydia tidak bisa berbahasa inggris. Kami berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh. Saya tidak tahu caranya membuat dia benar-benar mengerti. Saya mengungkapkan dengan bahasa isyarat bahwa agak sukar berkomunikasi dan akan sulit membantunya.

Semangat untuk belajar
Besoknya, Lidya datang lagi dengan membawa kamus kecil bahasa Tionghoa-Inggris. Saya tersenyum melihat semangatnya untuk belajar dan tidak putus asa, walau ada kendala besar dalam berkomunikasi.

Hari itu pun mulailah saya mengajar dia dengan menggunakan kamus sebagai alat bantu dalam berkomunikasi. Ia datang ke rumah kami hampir setiap hari. Setelah belajar gitar, ia mengajak anak-anak kami main. Saya sungguh senang bisa membantunya belajar dan karena ada yang mengajak anak-anak kami bermain. Saya mengajar dia bermain gitar sekaligus saya belajar berbicara bahasa Tionghoa melalui kamus kecilnya serta berkomunikasi dengan dia.

Setelah beberapa saat membantunya belajar gitar, kami sekeluarga sepakat untuk membelikannya sebuah gitar karena setelah itu saya harus mulai belajar bahasa dan kebudayaan di Universitas Hunan. Sedangkan ia harus masuk sekolah lagi. Ia bisa berlatih gitar sendiri di rumahnya.

Empat bulan kemudian, tepatnya pada acara Natal, saya terkejut sekaligus bangga melihat Lidya memainkan gitarnya dan mengiringi puji-pujian Natal.

Saat itu, ia juga mengajak papa dan mamanya untuk bernyanyi bersama memuji dan menyembah Tuhan. Ini sungguh menjadi berkat bagi para jemaat yang hadir. Saya terkejut karena dia belajar gitar dalam waktu singkat -- 1 bulan!

Saya bangga karena walaupun keterampilan bermain gitarnya sangat terbatas, ia memunyai tekad untuk memainkan gitar dan mengiringi acara Natal tersebut.

Setelah acara selesai, ada sedikit minuman dan kue. Lidya dengan inisiatif yang baik menyuguhkan kue dan minuman bagi jemaat yang hadir. Lidya seperti orang dewasa yang sungguh menjadi bagian dalam pelayanan Tuhan. Setelah semua jemaat makan dan minum, baru ia mengambil bagiannya.

"Baca ya ...." Demikian ia berkata sambil membagikan traktat kepada jemaat yang hadir. Mereka pun menerimanya, lalu pulang ke rumah masing-masing.

Elisabeth dan Lidya, dua gadis umur 11 tahun yang sungguh memberkati kami sekeluarga dan memotivasi semangat kami untuk tidak mudah putus asa bekerja bagi Tuhan di Tiongkok.

Kendati rintangan dan kesulitan hidup membentang, Elisabeth dan Lidya adalah pelayan Tuhan yang sejati. Pelayan Tuhan yang melayani bukan demi kepopuleran, uang, dan kekuasaan.

Pelayan Tuhan sejati memberikan diri untuk melayani, terus belajar, dan berlatih. Pelayan Tuhan sejati memaksimalkan semua yang ada padanya sambil mengucap syukur, bukannya mengeluhkan tentang yang tidak ada padanya.

Pelayan Tuhan sejati sanggup melihat dan memahami kebutuhan orang-orang yang dilayani. Syarat-syarat pelayan Tuhan sejati yang seperti itu sungguh ditampilkan oleh dua gadis kecil yang baru berumur 11 tahun tersebut.

Panggilan hidup yang mulia bagi setiap orang percaya adalah melayani. Melayani sesuai dengan segala talenta dan karunia yang Tuhan sudah berikan kepada setiap orang yang mengasihi Dia. Melayani dengan motivasi yang suci dan murni serta dengan dengan mengucap syukur.

Dua gadis umur 11 tahun tersebut sungguh dipakai Tuhan untuk mengingatkan saya untuk menjadi pelayan Tuhan sejati. Bagaimana dengan Anda?
Sumber: Buku Sejuta Sehari/sabda.org

Kumpulan Kisah Nyata:
Kerajaan setan "Kesaksian Seorang Pemuja Setan"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar