Minggu, 28 Juli 2013

Pengaruh Setan

By: Pdt. Petrus Agung Purnomo
Belajar dari spirit yang mempengaruhi kehidupan kita, roh-roh yang menguasai suatu kota atau daerah. Dampak yang dapat kita lihat adalah sifat karakter seseorang disuatu daerah tertentu, ada yang keras, suka bohong, medit dan lain-lain. Salah satu contoh khasus spirit mempengaruhi kota tersebut adalah kota Semarang. Latih manusia roh kita untuk menjadi Pasukan Tuhan.

Berapa jauh roh-roh itu mempengaruhi perilaku kita?
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! (1 Timotius 3:1-5)

Ciri yang pertama dari masa sukar adalah orang mencintai dirinya sendiri. Kalau kita mendengar tentang orang yang mencintai dirinya sendiri, kita akan berkata “Yah, itu memang wataknya begitu, yah, itu memang betul juga. Tetapi kita akan melihat lebih lanjut, betulkah ini semata-mata karena watak kedagingan manusia? Dibagian selanjutnya dari ayat dua dikatakan manusia kan jadi hamba uang. Ada orang-orang mata duitan, dan orang-orang berkata: “Yah, dia memang mata duitan, kalau lihat duit suka banget, jadi ijo, melotot matanya, karena memang mata duitan. Memang itu jenis manusia mata duitan begitu. “Bannyak beranggapan, itulah sifat, watak, perangai manusia.

Ayat tiga dikatakan, “Mereka akan membual dan menyembongkan diri.” “Wah, ini apalagi, Pak. Ini dasar orang sombong, suka membual, suka ngomong begini-begitu.” Kelihatannya seperti itu. Sampai ke ayat kelima tercantum ciri-ciri manusia pada masa yang sukar. Alkitab mengatakan bahwa pada akhir zaman, akan datang masa yang sukar. Kata bahasa Yunani yang digunakan dalam Alkitab dan diterjemahkan sukar ini adalah kata khalepos. Dan kata itu di dalam seluruh Perjanjian Baru hanya dipakai dua kali. Yang pertama dalam 2 Timotius 3:3, dan bentuk dari masa sukar itu adalah bagaimana perangai/perilaku manusia, tindakan, cara berpikir, dan hati manusia bisa begitu jahat dan begitu buruk. Pertanyaan adalah:
Mengapa mereka sampai begitu buruk?
Benarkah murni oleh karena manusianya?
Kita lihat ayat lainnya yang mencantumkan kata itu juga:
Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. (Matius 8:28)

Kata berbahaya berasal dari kata khalepos yang sama. Kedua orang itu menjadi sangat berbahaya, oleh karena kerasukan setan dan pekerjaan setan. Demikian juga halnya dengan kondisi yang digelar dalam 2 Timotius 3:1, perilaku manusia bisa seperti itu karena pengaruh setan. Jadi, apapun yang di alam roh, pengaruhnya sampai kepada perilaku manusianya. Dan hal ini sangat umum terjadi.

Spirit yang mempengaruhi manusia
Misalnya, kita baru berjumpa dengan seseorang, begitu orangnya menyebutkan dari suku tertentu, langsung asosiasinya:”tukang nipu,” “tidak jujur,” atau hal yang lainnya. Mengapa mendapat “cap” seperti itu? Karena banyak yang begitu. Apakah karena watak mereka seperti itu? Tidak juga. Sebetulnya apa? Spirit di atasnya. Demikian juga dengan orang semarang. “kamu orang mana?” “Semarang.” “Heheh, medit (kikir) yah?” Dulu terkenal sekali, kikirnya luar biasa. “Semarang? Jangan kawin sama orang semarang…mendit!” Kalau ngajak makan bareng-bareng, menjelang bayar, mesti ke toilet, ..ngga keluar-keluar… alasannya perutnya sakit terus. Setelah dibayar…loh, sudah selesai ya, sudah sudah selesai?” sepuluh kali makan begitu terus gayanya. “Jangan kawin sama orang semarang…medit!” ini bisa menjadi suatu “cap.” Hal ini terjadi karena spirit di atasnya. Kalau tidak bisa dipecahkan, maka tidak bisa mengubah perilaku dari manusianya.

Contoh kasus kota Semarang
Bisakah hal ini itu ditanggulangi? Bisa! Itulah sebabnya kita harus berdoa untuk kota kita, melakukan peperangan rohani untuk membalikan keadaan. Ditengah-tengah keadaan orang Semarang yang kikir. Ada survey yang meneliti mengapa mall tidak bisa hidup di Semarang, dan menemukan dua kemungkinan:
1. Orang Semarang miskin, tidak mempunyai apa-apa.
2. Kikirnya luar biasa, segala sesuatu diperhitungkan.

Kesimpulan dari survey ini: mereka bukan orang miskin, tetapi kikir. “Oh, kita ngga koq, Pak, kita irit.” Ya, irit yang kebangetan (keterlaluan) itu adalah kikir atau mendit tadi itu. Orang bisa beli mobil mewah.. simpan di garasi. Lalu beli yang murahan, untuk dipakai setiap hari. Yang mewah hanya minggu sekali: kegereja tok. Lalu pulang, masuk garasi, dilap lagi, tutup garasi, kletek, digembok, pasang police lice: tidak boleh mendekat. “Orang itu ngga punya apa-apa, naiknya mobil begituan!” Coba, buka garasinya! Itu sebabnya banyak orang berkata: “Mau beli mobil mewah second hand? Cari mobil orang Semarang: jarang dipake!” Mengapa? Medit itu tadi sebetulnya. Itulah orang-orang yang hanya memiliki karunia memiliki bukan karunia menikmati.

Apakah menurut Saudara hal itu tidak harus dipecahkan-kan? Harus! Tidak mungkin kami membangun gedung Holy Stadium kalau alam rohnya tidak dikendalikan dan jemaat menjadi orang yang kikir terus. Itu tidak mungkin! Banyak orang yang datang beribadah di Holy Stadium dan berkata: “Kenapa ya, di JKI ngga bisa beri persembahan sedikit?” Karena roh meditnya sudah ditinggalkan diluar. Banyak yang berkata: “Dulu sata ke tempat lain, ngga bayar perpuluhan, koq kelihatan masuk Surga juga. Kenapa di sini, kalau ngga ngasih perpuluhan koq kelihatan seperti mau dibuang ke neraka?” Iya, saya pastikan itu! Karena roh yang membutakan orang-orang ini tinggal diluar, tidak berani masuk. Mengapa demikian? Ada cerita yang riil banget.

Berjumpa dengan pririt yang bukan dari Tuhan
Menjelang akhir 1990-an, saya  baru selesai mengikuti KKR Benny Hinn di North Carolina, di kota Charlotte. Menjelang pulang, saya mampir di L.A. dua hari, malam terakhir saya tidur lebih awal, karena besoknya saya harus terbang sendirian kembali ke Indonesia. Yang aneh, selama di North Carolina, Benny Hinn dalam seminarnya berkhotbah tentang Elia dan Elisa. Itu kali ketiga atau keempat saya mendengar Beliau berkata begini: “Pada waktu Anda sampai di Yerikho, Anda akan mengalami perjumpaan face to face with the devil (berhadapan muka dengan muka dengan si iblis).” Entah bagaimana, perkataan itu masuk didalam hati saya, tetapi tidak menjadi hal yang membebani pikiran.

Ketika saya pulang dan tidur di L.A., saya bermimpi. Dalam mimpi itu, di tangan saya ada sebuah gelas berisi air minum, saya sedang minum, tiba-tiba saya merasakan ada orang dibelakang saya, dan saya menoleh. Orang itu antic sekali, mukanya berbentuk persegi, dingin sekali, tetapi ia memakai kebaya dan bersanggul di bagian belakang kepala, matanya hijau tua tidak ada senyumnya sama sekali, tidak ada “syalom”-nya, tidak ada apa-apa, dingin saja, memandangi saya. Terus terang, saya terkejut. Dan saya tidak ingin ketemu lagi makhluk seperti itu. Banyak teman pendoa yang peka melihat setan, saya berkata: “Itu berkat Saudara, saya tidak mau.” Tetapi kita perlu mereka, kalau tidak kita dibodohi setan terus. Saya terkejut sekali pada waktu itu, tidak dapat menghardik lagi karena begitu terkejut. Tetapi yang ajaib, ketika saya tunjuk, dia mundur. Ketika melihat dia mundur, saya bertambah berani, saya tunjuk lagi, saya dekati lagi, dia mundur lagi, dan melewati tembek begitu saja. Dan begitu dia sudah melewati tembok, saya hardik. Dan baru saja saya berkata: “Dalam…” dia lari.

Saya terbangun. Hadirat kejahatannya masih kental sekali. Saya berdoa sebentar, lalu tidur lagi. Besok paginya saya berjumpa Pdt. Adi Sutanto (Ketua Sinode JKI), pemilik rumah tempat saya menginap, dan Saya bertanya: “Pak Adi, pernah lihat setan?” Beliau berkata: “Saya sudah puluhan tahun melayani Tuhan, belum pernah melihat satu pun.” Lalu saya ceritakan apa yang terjadi. Tadinya Beliau berpikir mungkin anaknya membawa barang-barang tertentu yang diberikan temannya, yang mungkin bisa membawa kuasa gelap itu masuk. Tetapi saya berkata: “Tidak, ini tidak kaitannya dengan Pak Adi, spirit ini kaitanya lansung dengan hidup saya.” Sebab dia memakai konde, kecuali orang-orang yang di kedutaan Indonesia di perayaan 17 agustus, tetapi yang lain di jalan-jalan tidak ada yang memakai konde, karnaval pun tidak memakai konde. Pakai topeng Indian atau topi koboi mungkin, tetapi konde tidak pernah dipakai di sana. Saya berkata: “Definitely (pasti) ini urusan dengan saya secara alam roh. Dan saya tahu saya menang tadi malam. Saya ingin lihat seperti apa jadinya.”

Breakthrough
Sesungguhnya breakthrough (trobosan) yang besar, yang kami nikmati sampai hari ini, adalah masalah keuangan. Itulah yang membuatnya semua berubah, dan yang membuat Tuhan bisa memerintahkan kami melakukan banyak hal tanpa “teriak-teriak” minta orang lain menolong.

Saya baru berjumpa seorang anak Tuhan dari gereja lain, yang bertanya demikin: “Pak, bapak terima bantuan berapa tiap bulan dari luar negeri, untuk mengerjakan semua ini?” Saya menjawab: “Saya berharap saya punya banyak, tetapi sayang tidak satu dolar pun saya terima dari luar. Sebagian besar adalah korban dari jemaat sendiri.” Hal itu membuat dia terkejut sekali: “Koq bisa seperti ini?” Mengapa jemaat bisa begitu ingin memberkati, memberi kepada Tuhan, ketika jemaat keberkatan? Sebab roh kikir tidak ikut masuk ke dalam. Kalau setelah keluar medit lagi, itu urusan jemaat sendiri. Saya harap tidak pernah roh itu dibawa ke mana-mana, karena Alkitab berkata: “Lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (KPR 20:35). Jika sepulang kebaktian, roh medit minta ikut lagi, jangan lagi kita ajak, tinggalkan saja, biarlah dia pulang ke neraka, kita tidak ada urusan lagi dengan roh itu. Enak sekali hidup kita, apabila secara keuangan kita tidak dikendalikan oleh roh seperti itu. Orang yang medit-nya luar biasa itu gawat, semua dihitung: “Es the manis piro regone (berapa harganya)?” “500, Pak” “Mbok 400 wae (400 sajalah)…” Semua diperhitungkan secara demikian. “Minum di just Coffee…?” “Ora usah! Ngudek dewe! (Tidak usah, aduk kopi sendiri!) lha ‘kan larang, aku tuku kopi ‘tak deploki dewe ‘ra opo-op. (‘Kan mahal, saya beli kopi, saya tumbuk sendiri tidak apa-apa.)” Malahan ada yang berkata: “Kalau mau lebih irit, satu biji kopi dikletaki (digigiti) aja, mbe banyu putih, rosone podho… (dengan air putih, rasanya mau saja.)” Saya hanya bisa mengeluh: “Tuhan Yesus, Tuhan Yesus …” Ini sudah keterlaluan.

Kalau saja saya dapat merdeka dari roh semacam ini. Tuhan itu memberkati kita, kalau Tuhan mau memberkati, Ia sungguh memberkati. Saya tidak mengajar kita untuk bermewah-mewah, tetapi kalau kita sampai diikat oleh roh semacam itu, berat bagi kita. Akibatnya segala sesuatu dihitung, jadi selau berselisih karena perhitungan uangan. Gara-gara selisih uang dua rupiah bisa seminggu saling mendiamkan. Tengkini saja, urapi dengan minyak seliter, dia akan sembuh dari penyakitnya. “Minyak apa, Pak?” “Minyak klentik (minyak goreng buatan sendiri)!”

Catatan:
Semua harus diselesaikan lebih dulu secara alam roh. Maka kemudian di bawah, di alam  duniawi, perubahan akan nyata sekali bedanya. Saya berdoa supaya Tuhan ajarkan hal ini. Pada masa-masa terakhir, ketika datang masa-masa yang sukar, perilaku manusia mengerikan. Ternyata bukan murni manusia sejahat itu, melaikan ada pengaruh kuasa gelap yang sangat demonic (sangat dipengaruhi setan-setan). Dan pengaruh itu harus ditanggulangi dan harus diselesaikan, baru semuanya akan kembali normal dalam anugerah Tuhan.
Sumber: Buku Membangun Pasukan “Kuasa Membalikan Keadaan”


Kumpulan Kebenaran Firman:

1 komentar: