Sabtu, 31 Agustus 2013

Jatuh dari anak tanggga menjadi pelajaran bagiku

Mujizat terjadi ketika jatuh
Hari ini saya menulis dengan jempol kaki yang diperban. Sakit, tapi saya harus bersyukur karena itu adalah luka "minimal" dari kejadian seram yang saya alami tadi pagi. Ketika bangun, saya berdiri di pinggir terali di ruang tamu. Bentuk rumah saya memang agak bertingkat, dengan posisi ruang makan yang lebih rendah dari ruang tamu, berjarak 3 anak tangga. Dan di pinggir terali itu saya merenggangkan tubuh. Saya mungkin merenggangkan tubuh agak terlalu kebelakang, dan tiba-tiba dunia serasa berputar.

Saya pun terjengkang ke belakang dengan kepala yang menghantam meja makan dari kaca terlebih dahulu. Saya mendengar bunyi pecahan kaca dan saya tahu, saya berada dalam masalah! Tubuh saya terus terbanting berdebam ke atas kaca dan kemudian berguling jatuh ke lantai. Entah bagaimana, puji Tuhan, mukjizat ternyata terjadi. Kaca meja makan ternyata tidak pecah. Jika pecah, mungkin kaca itu akan membelah kepala saya. Tidak ada lecet di tubuh saya sama sekali, hanya saja kuku jempol kaki saya ternyata terbelah dan berdarah.

Rasanya tidak ada logika yang bisa menjelaskan bagaimana kaca tidak pecah ketika dihantam tubuh saya dari ketinggian yang cukup jauh. Saya bersyukur masih diberikan kesempatan hidup, meski saya masih gemetar mengingat peristiwa "near death experience" seperti itu. Tetapi malam ini saya merenungkan seandainya saya tadi pagi dipanggil pulang, apakah saya sudah siap untuk itu?

Seringkali kita terlena ketika hidup terasa baik-baik saja. Kita merasa bahwa kita masih punya kesempatan, jadi sekarang kita masih bisa bersenang-senang melakukan apapun termasuk hal-hal yang sebenarnya tidak berkenan di mata Tuhan. Bertobat nanti saja, toh waktu masih banyak. Ada banyak orang yang berpikir demikian.

Menyia-nyiakan waktu seolah tahu kapan saatnya kita dipanggil pulang lalu harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan dan perkataan yang pernah kita keluarkan di masa hidup. Kejadian saya tadi pagi menyadarkan saya, dan semoga bisa menggugah teman-teman juga untuk lebih waspada dalam menyikapi waktu. Sesungguhnya tidak ada yang tahu berapa lama kita diberikan waktu di dunia ini.

Menyadari singkatnya hidup manusia
Daud menyadari betapa singkatnya hidup manusia. "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat." (Mazmur 144:4). Masa hidup manusia ini sesungguhnya sekelebat saja, seperti angin berhembus, seperti bayang-bayang lewat. Begitulah singkatnya. Dalam doanya Musa mengatakan "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (90:10). Begitu singkatnya, berlalu buru-buru. Hari ini ada, sebentar lagi melayang lenyap.

Itulah sebabnya kita harus menghargai waktu yang diberikan, seperti kata Musa: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (ay 12). Paulus mengajarkan kita untuk mau mempergunakan waktu yang ada dengan baik. "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:15-16). Dalam surat lain ia berkata "..Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu." (1 Korintus 7:21). Dan Petrus mengingatkan kita, hendaklah .."waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah." (1 Petrus 4:2). Semua ini berbicara mengenai menghargai waktu dan kesempatan yang masih diberikan.

Disamping itu, saya pun merenungkan makna dari kehidupan ini. Apakah saya sudah menjalankan tugas-tugas yang diberikan Tuhan? Apakah saya sudah melakukan segala sesuatu sesuai rencana Tuhan ketika menciptakan saya? Dan yang tidak kalah penting, apakah kehidupan saya sudah memberi buah? Paulus pernah mencurahkan perasaannya dari dalam penjara dalam surat Filipi. Ia "sharing" bagaimana ia ditangkap bukan karena melakukan kesalahan kriminal tetapi justru karena mewartakan kebenaran tentang Kristus. Ia tidak bersungut-sungut dan mengeluh mengalami perlakuan tidak adil karena ia tahu benar bahwa kalaupun ia mati, itu bukan kerugian melainkan keuntungan. "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." (Filipi 1:21). Keuntungan? Tentu saja.

Hidup adalah anugerah
Dalam versi Bahasa Inggris dijelaskan mengenai keuntungan ini, yaitu "the gain of the glory of eternity." Bagi orang-orang yang tetap setia dan taat hingga akhir, semuanya akan pergi ke tempat dimana .."Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Wahyu 21:4). Sebuah tempat yang telah disediakan langsung oleh Yesus Kristus. (Yohanes 14:2-3). Dan Paulus tahu bahwa apabila ia tetap menjalani hidup seperti yang dikehendaki Tuhan, maka sebuah tempat yang disediakan Kristus pun akan tersedia pula baginya. "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat  kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat  kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat  kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia." (2 Korintus 5:1).

Itulah yang ia sebut sebagai "keuntungan". Tetapi jika ia masih diberikan kesempatan untuk hidup, maka sisa hidup itu haruslah diisi dengan sesuatu yang bermakna, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sanggup menghasilkan buah demi kemuliaan Allah. "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (Filipi 1:22a). "Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu." lanjut Paulus. Kalau mati, itu artinya lepas dari penderitaan dan masuk ke dalam kemuliaan bersama dengan Allah selamanya, tetapi kalaupun memang masih harus hidup, maka hidup haruslah diisi dengan segala sesuatu yang mampu memberikan buah. Itulah yang seharusnya menjadi dasar pemikiran kita dalam menjalani hidup dari hari ke hari. Maka sembari menulis saya pun merenungkan hal yang sama.

Ketika saya masih diberi kesempatan untuk hidup lewat mukjizat luar biasa tadi pagi, sudahkah saya bekerja memberi buah yang cukup, dan akankah saya terus bekerja untuk menghasilkan lebih banyak buah lagi?

Berbuah selagi kita masih hidup
Ada rencana Tuhan yang besar bagi setiap kita. Ada tugas-tugas yang dibebankan Tuhan kepada kita. Hendaknya kita menjalankannya dengan hasil gemilang, sehingga kelak ketika kita mempertanggungjawabkan semua itu di hadapan Tuhan kita bisa melakukannya dengan kepala tegak. Lewat peristiwa "near death experience" yang saya alami, hari ini saya menyadari betapa berharganya waktu yang dipercayakan Tuhan kepada saya, dan saya bertekad untuk mengisi sisa waktu yang masih ada untuk menghasilkan buah demi memuliakanNya.

Itulah sebabnya dalam keadaan sakit pada jempol kaki dan kepala yang masih pusing, saya tidak memutuskan untuk beristirahat. Saya masih bersemangat menulis renungan ini dengan penuh rasa syukur dan sukacita. Kita tidak pernah tahu berapa lama lagi waktu yang diberikan, bisa lima puluh tahun, sepuluh tahun, sehari bahkan semenit lagi. Oleh karena itu marilah kita belajar untuk lebih menghargai waktu dan mengisinya dengan segala sesuatu yang berharga, menghasilkan buah-buah manis yang berkenan bagi Tuhan.

Jika masih harus hidup, itu untuk bekerja menghasilkan buah. Sudahkah kita berbuah?
Sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com

Kumpulan Kisah Nyata:
Rahasia Kerajaan Sorga Terungkap "Kesaksian"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar