Kamis, 04 Oktober 2012

Terlalu Banyak Pertanyaan


Seorang teman mengirimkan tulisan menarik lewat imail yang judulnya “This is the reason why I would never like to visit my rich frend”. Mengapa ia tidak mengunjungi temannya yang kaya? Ingin tahu alasannya? Begitu ia duduk diruang tamu, seorang pelayang menghampirinya dan terjadilah Tanya jawab, berikut:

Pelayan  : Mau minum apa, pak? Air putih, teh, kopi atau jus?
Tamu      : Minum teh Bu.
Pelayan  : The biasa, teh hijau atau herbal?
Tamu      : Teh biasa.
Pelayan  : Pakai susu atau tidak?
Tamu      : Pakai susu deh Bu.
Pelayan  : Susu segar atau cream?
Tamu      : Susu segar.
Pelayan  : Susu sapi atau kambing?
Tamu      : Sapi saja Bu.
Pelayan  : Sapi Selendia Baru, Belanda atau sapi lokal?
Tamu      : Hmm.. Ya sudah teh saja Bu.
Pelayan  : Pakai gula atau tidak?
Tamu      : Pakai gula.
Pelayan  : Gula batu, gula pasir atau madu?
Tamu      : Udah deh Bu, air putih saja.
Pelayan  : Air mineral, atau air suling?
Tamu      : Dari pada banyak pertanyaan, lebih baik aku mati kehausan saja!

Bisa saja kita tertawa terbahak-bahak atau minimal tersenyum simpul membaca kisah di atas. Namun dalam banyak hal dan praktik kehidupan sehari-hari kita sering memiliki sikap karakter yang tidak ekselen seperti pelayanan tersebut.


Sering kali kita tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan cepat, tepat dan berkualitas. Bahkan untuk suatu perintah yang tertulis di Alkitab pun kita masih mendiskusinya. Atau ketika ada orang yang datang kepada kita meminta pertolongan, kita membuat suatu aturan dan birokrasi sehingga orang tersebut menunggu begitu lama. Padahal intinya kita tidak rela hati untuk mengambil tugas dan tanggung jawab yang Allah berikan kepada kita.

Sepertinya kita perlu belajar dari 911 di Amerika, begitu nomor itu ditekan, mereka yang bersangkutan dan diperlukan segera meluncur ke tempat kejadian, baik pemadam kebakaran, para medis maupun petugas keamanan.

Tuhan sedang mencari orang-orang yang mau menangkap dan mengerti apa yang menjadi keinginan-Nya lalu bersedia untuk di pakai sehingga bermanfaat bagi banyak orang karena orang tersebut mau dibentuk untuk menjadi pribadi yang ekselen.

Kumpulan Kisah Nyata



Tidak ada komentar:

Posting Komentar