Sabtu, 11 Agustus 2012

Pemalas

Ayat bacaan: Pengkotbah 10:18
==========================
"Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah."

Kita semua ingin menjadi orang-orang yang pintar. Orang tua pun akan berusaha mati-matian agar anaknya mendapatkan pendidikan yang baik setinggi mungkin. Menuntut ilmu sampai setinggi langit tentu menjadi dambaan setiap orang yang ingin sukses, dan benar bahwa itu akan sangat menentukan keberhasilan kita. Tapi sayangnya ada banyak orang yang hanya secara sempit mengasosiasikan keberhasilan hanya mengacu kepada tingkat pendidikan saja.

Padahal masalah kerajinan, kedisplinan, semangat berjuang dan sikap pantang menyerah pun merupakan hal yang sangat menentukan sukses tidaknya kita dalam hidup ini. Saya mengenal banyak orang pintar yang memilih untuk malas-malasan, dan akibatnya mereka tidak mengalami kemajuan berarti dalam hidupnya. Sebaliknya saya mengenal pula orang-orang yang kurang beruntung dari segi pendidikan karena ketidakmampuan orangtuanya dahulu, tapi mereka tampil menjadi orang-orang yang berhasil dalam pekerjaan, dalam hidup dan sebagainya karena didukung oleh kegigihan mereka berjuang dari nol.

Jika kita menelaah isi Alkitab, kita tidak menemukan satupun orang malas yang Tuhan mau pakai. Tidak ada satupun yang menerima tugas dari Tuhan ketika sedang bermalas-malasan. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyukai orang malas. Di masa-masa sulit seperti sekarang ini kita justru seharusnya tertantang untuk bekerja lebih giat lagi.

Tetapi yang banyak terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak saja orang yang malas berusaha untuk memperjuangkan hidup mereka. Para pemalas ini biasanya tidak mau repot-repot mengeluarkan tenaga atau mempergunakan pikiran mereka. Mereka terbiasa menunda pekerjaan atau bahkan melupakannya sama sekali. Apakah itu artinya mereka tidak memiliki keinginan atau impian? Dari yang saya lihat, mereka pun sebenarnya punya impian tinggi.

Tetapi yang membedakannya adalah cara menyikapinya. Ketika orang rajin akan berusaha dengan sekuat tenaga dan sungguh-sungguh untuk mencapai impian mereka, si pemalas hanya berhenti sampai tingkat bermimpi untuk itu. Mereka berharap untuk mencapai cita-citanya dengan cara yang paling mudah tanpa harus mengeluarkan setitik keringat pun. Banyak diantara mereka biasanya akan terus mencari kambing hitam, tidak jarang pula mereka berani menyalahkan Tuhan atas keadaan mereka.

Firman Tuhan "Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan." (Amsal 13:4). Sikap-sikap seperti ini tidak boleh dibiarkan menjadi bagian dari diri kita. Selain ayat ini,ada begitu banyak firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk bekerja dan berusaha serius untuk mencapai sebuah tujuan.Kitab Amsal berisi begitu banyak firman Tuhan lainnya yang menyinggung soal kemalasan ini. Misalnya dalam Amsal pasal 6 yang banyak sekali menyinggung soal kemalasan.

Agaknya si Penulis mengerti betul mengenai kemalasan yang menjadi gaya hidup banyak orang ini, sehingga ia sampai perlu mengajak kita untuk belajar mengenai kerajinan dari seekor semut, binatang yang paling lemah dan sangat kecil ukurannya."Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak." (Amsal 6:6). Kita tahu bagaimana semut selalu bergerak dan bekerja dengan rajin. Semut mampu mengangkat makanan yang berukuran jauh lebih besar darinya, kalaupun tidak kuat mereka akan bergotong-royong mengangkutnya bersama-sama dengan menempuh jarak yang seringkali sangat jauh menurut ukuran seekor semut.

Dan firman Tuhan berkata"biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen." (ay 7-8). Dan hal ini sungguh berbanding terbalik dengan tipe manusia pemalas yang membuang-buang waktu dalam kemalasannya. "Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring."(ay 9-10). Ketika ini yang menjadi sikap hidup kita, "maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata." (ay 11). Bandingkan kedua ayat ini, dan kita bisa melihat bahwa masalah kemalasan merupakan hal yang harus segera kita lawan. Kemalasan yang terus dipupuk akan membawa kita masuk ke dalam kemiskinan dan kekurangan. Itu sama saja dengan menghambat sendiri turunnya berkat Tuhan atas diri kita.

Kita tidak akan pernah menikmati peningkatan-peningkatan atau kemajuan dalam hidup apabila kita terus membiarkan rasa malas menguasai diri kita. Sikap ini bahkan bisa membuat kita menjadi semakin rapuh dan gampang runtuh. Sebuah firman Tuhan dalam Pengkotbah mengatakannya seperti ini:"Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah." (Pengkotbah 10:18). Kegagalan dan kehancuran seringkali berawal dari kemalasan yang terus dibiarkan berdiam dalam diri kita. Untuk itulah kita harus melatih diri sedini mungkin untuk menjadi orang-orang dengan semangat yang kuat dan giat dalam berusaha. Ingatlah bahwa Tuhan tidak menyukai para pemalas seperti ini. Tuhan menyukai orang-orang yang rajin bekerja, dan Dia pun suka memberkati kita lewat usaha sungguh-sungguh yang kita lakukan.

Kepada jemaat Tesalonika Paulus mengingatkan dengan sangat keras: "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10).  Selanjutnya lihatlah ayat berikut: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia." (Kolose 3:23) Ini adalah sebuah panggilan untuk melakukan apapun yang kita perbuat dengan segenap hati seperti sedang melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Artinya keseriusan, kesungguhan dan kerajinan kita merupakan bagian yang sangat penting dalam memperoleh kemajuan atau keberhasilan. Dan Tuhan sendiri menganggap penting hal itu. Kemalasan tidak akan pernah masuk dalam konteks ayat Kolose tersebut. Karenanya jangan sampai kemalasan menjadi bagian dalam hidup kita.

Mari periksa diri kita masing-masing, apakah ada hal-hal yang belum berhasil dicapai yang diakibatkan oleh belenggu kemalasan yang masih terus menguasai kita? Apakah anda termasuk orang yang suka menunda-nunda sesuatu, malas merancang masa depan anda, malas untuk melangkah dan sebagainya? Apakah anda lebih menyukai tidur-tiduran ketimbang mulai melakukan sesuatu? Jika ini masih menjadi bagian dari diri anda saat ini, lawanlah segera dan mulailah melakukan perubahan. Kemalasan hanya akan mendatangkan kemiskinan dan kekurangan, yang cepat atau lambat akan meruntuhkan kita habis-habisan.

Kemalasan berarti menutup berkat Tuhan untuk sampai kepada kita

Sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com

1 komentar:

  1. terima kasih atas renungan ini..sebenarnya sya merupakan org golongan ini..sejak 6 bulan yg lalu sya sngt malas..tak tau kenapa..sya fikir ini satu pencobaan bagi sya..membaca ini memberi sya kesedaran..doakn sya agar bisa berubah demi masa depan saya..Amen..
    Love, saudara dari Sabah, Malaysia...=)

    BalasHapus