Jumat, 11 Oktober 2013

Filsuf yang mendapat jawaban tentang keslamatan dan menjadi martir

Yustinus Martir, seorang filsuf muda pada abad kedua, mendengarkan dengan baik pidato seorang lain yang berpendidikan baik.

"Orang-orang yang menjadi pengikut orang Nazaret yang mati itu adalah orang-orang bodoh yang percaya kepada takhayul," kata si ahli pidato itu. "Yang mereka puja tak lain hanya awan-awan dan pengaruh bintang. Saya kira mereka merupakan ancaman bagi kekaisaran ini." Orang-orang yang berkumpul di sana dalam bentuk lingkaran itu menganggukkan kepala.

Namun Yustinus tidak begitu cepat menyetujui. "Saya tidak begitu yakin akan hal itu," ia memberi komentar. "Mereka sangat tulus. Saya telah mendengar tentang orang-orang Kristen yang mengakui imannya walaupun mereka tahu akan dilemparkan ke dalam ketel yang berisi minyak yang mendidih demi keyakinannya."

Satu di antara orang-orang itu tertawa terkekeh-kekeh. "Yustinus, kamu tidak akan menjadi orang Kristen, bukan?" tanyanya.

"Saya ingin mengetahui kebenaran," Yustinus menjawab dengan tenang.

Sejak masa kanak-kanaknya, Yustinus telah mencari-cari kebenaran itu. Ia telah mewarisi kekayaan yang cukup besar yang membiayai perjalanannya ke seluruh pelosok kekaisaran Romawi. Ia menjadi seorang wisatawan yang dikenal di sepanjang jalan-jalan dagang. Ke mana pun ia pergi untuk mencari pengetahuan dan kebenaran, ia melihat keteguhan iman orang-orang Kristen yang dihina itu.

"Apa yang terpenting dalam hidup ini?" Yustinus bertanya kepada seorang guru yang beraliran Stoa. Orang-orang dari aliran Stoa percaya bahwa dunia merupakan tubuh Allah.

Orang itu menjawab, "Carilah kebajikan."

Seorang pengikut Plato menasihati Yustinus untuk melarikan diri dari dunia. Dengan cara ini, ia akan menjadi seperti Allah, dengan kembali ke dunia roh semata-mata. Tetapi walau bagaimana pun Yustinus mencoba, ia tak dapat menahan keinginan-keinginan jasmaniahnya. Ia menerima nasihat dari guru-guru ternama lainnya, tetapi tak seorang pun memberikan jawaban yang memuaskan kepadanya. Ia berulang-ulang bertanya kepada dirinya sendiri, di mana arti kehidupan ini? Di manakah Allah, seandainya ada Allah?

Ia memikirkan lagi tentang orang-orang Kristen yang berani yang diketahuinya itu. Pada saat itu, agama Kristen adalah agama yang tidak sah dalam kekaisaran Romawi. Beribu-ribu orang telah mati sebagai martir. Yustinus telah merasa pasti bahwa orang-orang Kristen itu tidak bersalah. Ia merasa bahwa mereka mungkin saja tersesat, tetapi mereka pasti tidak jahat.

Pada suatu hari, filsuf yang sedang mencari Tuhan itu pergi berjalan-jalan dalam suatu ladang yang sunyi dekat kota Efesus. Sementara ia berjalan, ia tahu bahwa seorang laki-laki tua mengikutinya di belakang. Tiba-tiba ia berbalik dan berhadapan dengan orang asing itu.

"Mengapa Anda menatap saya?" orang tua itu bertanya.

"Saya merasa heran menemui orang lain di ladang yang sunyi ini," jawab Yustinus.

"Saya ada di sini untuk mencari seorang anggota keluarga saya. Tetapi mengapa Anda ada di sini?" orang tua itu bertanya dengan sangsi.

"Untuk menguji akal saya."

"Apakah filsafat memberikan kebahagiaan kepada seseorang?"

"Ya," Yustinus menjawab. Tetapi nada suaranya tidak pasti.

"Jelaskan pada saya, Anak Muda. Apa filsafat dan kebahagiaan itu?"

Yustinus memberikan jawaban biasa, "Filsafat adalah pengetahuan yang lengkap akan realitas dan daya memahami kebenaran dengan jelas. Kebahagiaan adalah upah dari pengetahuan dan kebijaksanaan seperti itu.

"Apakah definisi Anda mengenal Allah?" orang tua itu bertanya.

Sekali lagi Yustinus menggunakan jawaban lancar yang pernah diajarkan kepadanya, Allah itu merupakan sebab yang tidak berubah bagi segala hal lainnya.

"Lalu dapatkah seseorang mengenal Allah tanpa mendengar dari seseorang yang telah melihat-Nya? Bagaimanakah filsuf-filsuf, yang tidak pernah melihat Dia itu, dapat membuat penilaian yang benar?"

Yustinus menjawab dengan mengutip Plato, "Allah hanya dapat dikenal dengan pikiran dan hanya pada saat pikiran itu murni dan terang."

Orang tua itu tidak terkejut. "Ada guru-guru pada zaman kuno yang berbicara dengan Roh Ilahi dan meramalkan masa akan datang. Mereka membuktikan diri dengan ramalan-ramalan dan keajaiban-keajaiban mereka."

Yustinus menatap dengan aneh kepada orang tua itu. Ia tidak dapat memberi jawaban.

"Saya harap, Anakku, pintu gerbang cahaya akan terbuka bagi Anda. Hal-hal ini dapat dimengerti hanya oleh orang yang diberi hikmat oleh Allah dan Kristus."

Yustinus tidak pernah bertemu lagi dengan orang asing yang tua itu.

Beberapa waktu kemudian, ia menyebutkan peristiwa itu dan menulis: "Dengan segera nyala api berkobar dalam hati saya dan kasih orang-orang yang menjadi sahabat-sahabat Kristus ini menguasai saya. Menurut pendapat saya, filsafat itu sendiri aman dan berfaedah. Lebih-lebih lagi, saya berharap bahwa semua orang tidak akan menjauhkan diri mereka dari Juru Selamat."

Pada saat ia percaya bahwa agama Kristen adalah satu-satunya filsafat yang benar, Yustinus pergi mengabarkan tentang Kristus kepada filsuf-filsuf lainnya. Setelah dibaptis, ia menjadi seorang guru yang mengembara. Ia mengunjungi persekutuan-persekutuan Kristen yang pertama di tempat-tempat terkenal, seperti Efesus, Iskandaria, dan Roma. Ia mempergunakan karangannya untuk menantang ahli-ahli kritik dan penganiaya-penganiaya orang-orang Kristen.

Pada masa sekarang, hampir 1.800 tahun kemudian, karangannya yang disebut "Apologies" dianggap sebagai tulisan klasik dalam kesusastraan Kristen. Yustinus sendiri dianggap sebagai pembela orang-orang Kristen atau agama Kristen yang terbesar. Tidak dapat dielakkan lagi, Yustinus harus menentang orang-orang Romawi dan ditangkap karena pengajarannya. Pada tahun 163 dia dan beberapa orang Kristen lainnya dihadapkan ke Rustikus, kepala daerah Roma. Yustinus dan sahabat-sahabatnya dengan berani mengakui iman mereka dan menolak untuk memberikan korban kepada dewa-dewa berhala; mereka dipenggal. Setelah kematiannya, filsuf yang terkemuka itu menjadi terkenal sebagai Yustinus Martir. Teladannya yang sangat baik menjadi inspirasi bagi orang-orang Kristen di kemudian hari yang bersedia mati sebagai martir oleh karena mereka memilih untuk mengikut orang Nazaret yang dianggap hina itu, yaitu Yesus Kristus. Sumber: sabda.ord

Kumpulan Kisah Nyata:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar