Senin, 09 September 2013

Harus memilih anakku atau teman anakku?

Suatu kisah nyata, seorang bapa ketika berlayar dengan anaknya dan teman anaknya, ketika sampai ditengah laut ada badai yang membuat perahu mereka tenggelam. Saat itulah apa yang harus dilakukan orang tua tersebut...?

Setelah menyanyikan beberapa pujian-pujian, gembala sidang berdiri dan berjalan ke mimbar. Sebelum ia mulai dengan khotbahnya, ia memperkenalkan seorang tamu pembicara yang hadir dalam ibadah malam itu. 

Dalam perkenalannya, pendeta berbicara kepada jemaatnya bahwa tamu itu merupakan salah seorang teman akrabnya sejak ia masih anak-anak. Ia memohon agar temannya memberi sedikit sambutan serta membagi pengalamanya yang ia rasakan bisa menjadi berkat untuk jemaatnya.

Kemudian, seorang tua maju kemimbar dan mulai berbicara. “Seorang ayah dan putranya serta seorang teman dari anaknya sedang berlayar di samudra Pasifik, ketika mereka diterpa oleh sebuah badai besar sehingga mereka tidak dapat kembali ke arah pantai. Ombak yang ditimbulkan badai itu menjadi begitu tinggi, sehingga ayahnya, yang adalah seorang pelaut yang pengalaman, tidak dapat menguasai kapalnya terbalik dan ketiga orang itu terlempar kedalam samudra.”

Orang itu sejenak ragu-ragu seraya perhatiannya tertuju kepada dua orang pemuda yang sejak semula kelihatannya tertarik terhadap jalannya cerita itu. Kemudian orang tua itu melanjutkan ceritanya.

“Dengan meraih sebuah tambang penyelamat jiwa, ayah itu harus mengambil keputusan yang amat dahsyat yang ia pernah alami dalam hidupnya: kepada anak yang mana ia akan melemparkan ujung tambang penyelamatan itu. Ia hanya memiliki beberapa detik untuk mengambil keputusannya. Ia tahu bahwa puteranya adalah orang yang sudah percaya dan iapun tahu bahwa teman anaknya masih belum percaya. Penderitaan batin yang begitu mendalam akan keputusan itu tidak dapat dibandingkan dengan keganasan dari ombak badai itu. Seraya ia menjerit, “aku mengasihi anakku”, ia melemparkan tambang penyelamat itu ke arah teman anakanya. Ketika ia menarik tambang kembali dari teman anaknya ke kapalnya yang sedang karam itu, anak sendiri sementara sudah hilang ditelan oleh gelombang-gelombang yang sedang mengamuk dalam kegelapan malam hari. Tubuhnya tidak pernah ditemukan lagi.”

Pada saat itu, kedua pemuda yang duduk dengan tegak dibangku itu sangat ingin mengetahui kelanjutan dari cerita.

“Ayahnya,” orang tua itu meneruskan, “tahu bahwa anaknya masuk kedalam keabadian dengan Yesus dan ia tidak dapat menanggung beban untuk membanyangkan teman anaknya bila seandainya ia harus memasuki keabadian tanpa Yesus. Karena itulah ia rela mengorbankan anaknya sendiri untuk dapat menyelamatkan teman anaknya.

Betapa besar kasih Tuhan bahwa Ia dapat melakukan yang sama untuk kita. Bapa kita sorgawi telah mengorbankan Anak-Nya yang tunggal agar kita dapat diselamatkan, maka aku sangat menghimbau, kiranya anda pun menrima kesediaan-Nya yang menyelamatkan anda dengan memegang erat-erat tambang penyalamatan.”

Sesudah mengatakan kalimat terakhir itu, orang tua itu kembali duduk sementara terdapat keheningan diantara jemaat.

Gembala sidang kemudian menaiki mimbar dan menyampaikan khotbah singkatnya seraya untuk mengundang jemaat untuk menerima tawaran keselamatan. Namun, tidak seorangpun memberikan responnya.

Beberapa menit setelah usai kebaktian, kedua pemuda itu berada di sisi orang tua tersebut. “kisahnya bagus sekali, pak”, kata seorang pemuda itu, “namun aku kuwatir bahwa sungguh tidak realitas bagi ayah itu untuk mengorbankan anaknya dengan pengharapan bahwa temannya akan menjadi seorang percaya.”Ah, pemikiran anda memang masuk akal”, jawab orang tua itu, sambil matanya ditujukan kepada Alkitabnya yang sudah tua itu. Kepedihan mulai mengambil alih senyum wajahnya ketika ia memandang kedua pemuda itu seraya berkata, “Memang benar, hal itu tidak terlalu realitas, bukan? Namun aku pada hari ini berada disini untuk mengatakan kepdamu, aku bisa lebih mengerti dari pada kebanyakan orang lain, betapa dahsyat kepedihan Bapa sorgawi yang dialami dan dirasakan ketika Ia mengorbankan AnakNya yang tunggal. Sebab, akulah orang yang kehilangan anaknya di tengah samudera pada hari kejadiaan itu dan teman anakku yang ku selamatkan adalah pendetamu sekarang ini.”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar