Senin, 11 Maret 2013

Preman Ditangkap

Kesaksian Nico Kilikily
Hidup didunia preman, membuat saya tidak segan-segan untuk menghabisi musuh saya. Hal ini saya lakukan untuk dapat bertahan hidup, di tempat tinggal saya.

Kenapa sampai saya bisa terlibat didalam dunia preman, karena waktu kecil saya sudah di didik oleh orang tua saya yaitu bapak saya. Karena Bapak saya seorang yang pegulat, jadi saya diajari untuk berkelahi dengan kakak saya. Ketika kami berkelahi saya menang orang tua saya katakan bagus kamu hebat. Hal ini membuat saya suka berkelahi, sampai saya terjerumus kedunia preman.

Samurai saya sudah banyak memakan korban jiwa dan banyak darah yeng tertumpah dengan samurai saya. Samurai ini saya setiap hari asah dengan pedang, supaya siap siaga kalau suatu waktu ada serangan saya dapat menggunakan.

Saya sering menggunakan jubah putih, tujuannya supaya saya menutupi samurai yang ada dibelakang saya, supaya jangan terlihat. Tetapi sering dilihat  menggunakan juba putih, teman-teman saya, sebut saya panglima, saya merasa bangga dengan sebutan itu, karena nama panglima itu suatu gelar yang diberikan kepada seseorang yang memiliki nama besar, tetapi panglima dalam dunia preman. Hal tersebut membuat saya sangat di segani oleh lawan maupun teman.

Kalau ada yang salah sedikit saya dapat memukul, atau orang-orang  yang lihat saya, maka saya datang memukul dia. Akibatnya  saya merasa diri saya adalah orang yang hebat. Setiap hari saya dengan anak buah saya harus mempertahankan lahan tempat kita bekerja. Pada suatu hari ada preman-preman dari tempat lain yang datang untuk mengusir kita dari tempat kerja kita.

Karena tempat makan kami maka harus mempertahankan supaya jangan diambil, akhirnya ribut, ketika kita berkelahi, kebanyakan ada korban jiwa. Ketika kami berhasil mengalahkan mereka, membuat kita bangga, jadi kalau kita mau membuat apa-apa bebas, sebagai penguasa di tanah abang kami mau lakukan apapun bisa.

Pernah terjadi keributan besar-besaran dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore, akibat kejadian itu, kantor camat tanah abang di bakar, waktu yang pimpin keributan tersebut saya. Saya dengan anak buah saya di tangkap, selesai diproses begitu lama akhirnya kami dibebaskan, beberapa waktu kemudian saya harus berhadapan dengan aparat. Pada kejadian itu, ada seorang aparat yang mabuk, dan ingin berkelahi dengan kita, kami mulai memukul dia, akhirnya aparat tersebut meninggal.

Tidak terima oleh teman-teman aparat maka besoknya ada orang-orang yang datang menggunkan pakaian biasa ke rumahku, ketika ketemu saya, mereka memukul saya sampai saya tidak berdaya, untuknya saya masih hidup. Satu waktu kami disuruh untuk melakukan eksekusi suatu rumah, kami samapi dirumah tersebut ternyata didalam rumah sudah ada preman lain, akhirnya kami berkelahi. Dalam eksekusi tersebut kami yang menang. Karena kami menang maka banyak orang yang memberi kami pekerjaan.

Kami mulai mendapat banyak uang, maka membuat saya mulai tergoda dengan obat-obat terlarang dan minuman-minuman keras. Ketika saya menggunakan semua itu saya mulai berpikir kapan saya dapat hidup tenang seperti orang lain, yang aman dengan keluarga, anak dan istri, yang penting damai. Sebenarnya saya ingin memiliki kasih saya dan juga mau keluar dari lingkarang setan ini.

Suatu hari saya di tawarkan oleh teman saya, obat terlarang yaitu ineks dari belanda, ketika saya memakainya, saya mengalami over dosis, darah mulai keluar dari hidung dan telinga, badan saya mulai dingin, saya dibawa ke rumah sakit. Dalam keadaan tersebut saya mulai teringat akan lagu anak sekolah minggu yaitu ”Yesus-Yesus dokterku yang baik, dokter dunia tak sama Dia, saya sakit Dia sembuhkan”. Padahal sudah lama sekali saya tidak menyanyi lagu tersebut.

Tiba-tiba saya bisa ingat dan menyanyi lagu tersebut. Ketika saya nyanyi lagu itu da suatu suster mendengar saya nyanyi, karena saya dalam keadaan sadar dan tidak sadar, karena lidah saya sudah pendek, saya katakan sama suster tolong doakan saya, karena sembentar lagi saya akan mati. Kenapa saya bilang saya akan mati karena saya tahu dosa saya yang saya berbuat, semua dosa saya sudah lakukan yang paling kecil sampai yang paling besar sudah saya lakukan semua.

Dalam keadaan doa sama melihat sebuah cahaya dan ada seseorang tertumpah darah, saya mulai ketakutan, dan berpikir inilah kematian buat saya, pada ketika maut itu datang saya mulai menyesal akan setiap perbuatan-perbuatan dosa-dosa saya, tiba-tiba saya rasa gelap, saya pikir sudah di neraka, waktu dokter katakan sebentar lagi, saya dapat mendengar suara dokter jauh sekali, padahal dokter berdiri di samping saya.

Pada saat itu saya berteriak kecang-kecang Tuhan Yesus tolong saya, selesai itu saya mulai merasa dingin dari tubuh saya mulai turun pelang-pelang, saya mulai sadar bahwa saya telah di tolong oleh Tuhan Yesus, dokter sendiri heran melihat saya. Mulai waktu itu saya mulai berjanji, ingin melayani Tuhan, saya serakan hidupku kepada Tuhan. Keputusan yang saya ambil membuat teman-teman saya tidak menerima, mereka katakan bahwa saya seorang penghiyanat.

Saya tahu lebih baik menyenankan hati Tuhan dari pada manusia. Ketika saya bertobat memang ada beberapa proses yang panjang. Tetapi ketika saya benar-benar didalam Tuhan, hidup saya mulai bahagia. Saya tahu tanpa Tahan Yesus saya tidak sanggup hidup. Karena saya tahu kasih-Nya tidak terbatas dalam hidup saya. Amin... Gratis Download Vidio.

Catatan:
Dari kesaksian ini kita dapat belajar, bahwa tangan Tuhan selalu terulur buat kita, yang memanggil nama yang Hidup yaitu Tuhan Yesus. Ketika Nico sakit dan tidak dapat berbuat apa-apa tetapi Tuhan masih datang dengan kasih-Nya, kedalam hidup Niko, dan ketika itu dia mengingat akan lagu Yesus dokterku yang baik, lagu yang sederhana tapi itulah cara Tuhan, bekerja untuk membuat kita sadar dan berbalik dan mau bertobat dan memanggil Nama Tuhan Yesus. Saat ini Tuhan selalu melihat orang-orang yang mau bertobat dan meninggalkan hidup yang lama, datanglah kepada Tuhan. Karena Dialah Jalan Keselamatan dan Hidup, percayalah Kepada Tuhan maka anda akan diselamatkan..Amin

Kumpulan Kisah Nyata:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar