Rabu, 23 Januari 2013

Bebas dari Jerat Narkoba

Ketika badai krisis moneter menerpa negeri ini, pada tanggal 5 Juni  1997, kami memutuskan untuk pindah dari kota Medan dan meneruskan  kembali bisnis properti dan jual beli mobil di kota kelahiran saya,  Surabaya. Ketika usaha tersebut sudah berjalan dengan baik, saya  menyerahkannya kepada anak dan istri untuk mereka kelola, sehingga  saya mulai memunyai banyak waktu senggang. 

Saat itu, salah seorang  saudara dari istri mengajak saya untuk pergi ke gereja. Namun, setelah  berada di ruang ibadah, saya melihat orang-orang di situ bernyanyi  sambil berdiri dan bertepuk tangan penuh sorak-sorai. Sambil tertawa  kecut, hati saya mulai mengatakan bahwa tempat ini bukanlah tempat  yang cocok bagi saya. Maka, saya mengurungkan niat untuk percaya pada  Tuhan Yesus dan tidak pernah menginjak gereja itu lagi.

Pada tahun 2000 yang lalu, karena memunyai waktu senggang, saya mulai  melakukan lagi kebiasaan-kebiasaan jelek yang pernah saya lakukan  bersama dengan teman-teman waktu masih tinggal di Medan, sekitar tahun  1993-1995. Berjudi sambil bersenang-senang di diskotek dan menikmati  alunan musik ingar-bingar di ruangan yang remang-remang, ternyata jauh  lebih menarik bila dibandingkan dengan alunan musik di gereja.

Setelah berkali-kali menggunakan ekstasi, kawan-kawan saya mulai  menawarkan untuk mencoba mengisap sabu-sabu. Tetapi karena badan saya  agak besar, mengisapnya 5 kali tidaklah terlalu terasa dampaknya. Oleh  karena itu, saya dianjurkan untuk mengisapnya sebanyak 10 kali. Mula- mula, menggunakan obat-obat tersebut hanyalah sebagai pemacu semangat  kerja saya. Namun beberapa bulan kemudian, obat-obatan itu mulai  menjerat saya, terutama jika terjadi masalah di rumah atau pada bisnis  saya. Pilihan saya hanya tertuju pada barang haram itu, mengisapnya  lagi dan lagi, sampai akhirnya menjadi ketergantungan dan tidak bisa  terlepas darinya.

Sebenarnya, saya ingin berhenti dari obat-obatan itu. Saya dan istri  saya mulai mencari jalan keluar dengan mendatangi dukun-dukun, bahkan  meminta pertolongan pada berhala-berhala kami. Seperti anjuran para  dukun tersebut, saya pun mulai mencoba untuk tidak mengonsumsi obat-obatan itu. Namun, badan saya mulai sakit dan tulang-tulang saya  terasa ngilu seperti ditusuk ribuan jarum. Karena tidak dapat menahan  rasa sakit tersebut, saya mengisap sabu-sabu lagi untuk membuat badan
saya fit kembali.

Kalau batang itu tidak masuk ke dalam tubuh saya, saya akan menderita  `sakau` (ketagihan) dan kalau hal itu dibiarkan, saya akan mengalami  paranoid. Apabila saya terserang paranoid, maka akan mudah tersinggung  dan curiga pada semua orang, akibatnya istri dan anak-anak sayalah
yang menjadi sasarannya.

Suatu hari, setelah semalaman berpesta ekstasi dan sabu-sabu dengan  kawan-kawan di diskotek, pagi harinya saya tidak langsung kembali ke  rumah. Tanpa berpamitan terlebih dulu pada istri, saya bersama teman-teman berangkat untuk bersenang-senang di salah satu diskotek di  Jakarta. Karena hingga malam saya belum kembali ke rumah, istri dan  anak-anak saya mencoba menghubungi teman-teman saya. Namun, tak  seorang pun dari mereka yang mengetahui keberadaan saya. Maka, mereka  mulai mencari-cari saya ke setiap diskotek yang ada di Surabaya. Pada  hari yang ketiga setelah segala upaya yang dilakukan untuk mencari  saya tidak berhasil, istri saya mulai khawatir dan stres. Akhirnya, ia  pun jatuh sakit. Anak-anak yang memerhatikan ibunya dalam keadaan  seperti itu, segera melarikannya ke Rumah Sakit Mitra di Surabaya.

Ketika istri saya sedang dirawat intensif di ruang ICU, telepon  genggam yang baru saja saya aktifkan malam itu, tiba-tiba berbunyi.  Karena hanya teman-teman yang menelepon dan mengabarkan bahwa istri  saya sakit, saya tidak memercayainya. Saya berpikir itu hanyalah upaya  untuk membuat saya segera pulang ke Surabaya. Tetapi tidak lama  kemudian, seorang tetangga kami, Dokter Hendro Gunawan, yang merawat  istri saya di rumah sakit, menelepon dan mengatakan bahwa istri saya  sedang dirawat di rumah sakit, bahkan sekarang ini sedang ditangani  secara serius di ICU.

Setelah saya meyakini bahwa seorang dokter tak mungkin berbohong, maka  saya segera membeli tiket pesawat untuk keberangkatan pada jam pertama  besok pagi. Sesampainya di Surabaya, saya segera mencari istri saya ke  rumah. Tetapi, saya tidak menemukannya sehingga saya segera menuju  rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, saya menemukan istri saya  sedang didoakan oleh beberapa orang pria. Sebenarnya, saya tidak  setuju dengan itu. Bahkan, hati saya sangat jengkel kepada mereka  karena saya pikir cara itu tidak mungkin dapat membuat istri saya  sembuh dan sadar kembali.

Setelah didoakan oleh orang-orang tersebut, yang belakangan saya  ketahui bahwa mereka adalah anggota dari FGBMFI Surabaya, Kertajaya  Chapter, tak lama kemudian istri saya benar-benar sadar dan siuman.  Sejak saat itulah, istri saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru  Selamatnya. Sejak hari itu pulalah, istri saya mendoakan saya secara  terus-menerus, agar saya bertobat dan berhenti dari narkoba.

Seminggu kemudian, ketika saya tetap meneruskan petualangan saya di  dunia remang-remang diskotek, sekitar pukul 01.00 pagi, saya sedang  triping berat. Tetapi tiba-tiba, kepala saya berhenti bergeleng-geleng, seolah menginjak rem. Tiba-tiba saya merasakan kesepian yang  luar biasa dan langsung teringat pada Tuhan Yesus yang belum pernah  saya kenal sebelumnya. Saya mengatakan kepada Tuhan bahwa jika saya  bisa berhenti dari ekstasi, sabu-sabu, dan obat-obatan lainnya, saya  akan bertobat dan menerima Dia masuk ke dalam hati saya. Saya akan  beribadah kepada-Nya di gereja.

Sekitar lima sampai sepuluh menit kemudian, saya melihat wajah orang-orang yang sedang menari di depan saya menjadi seperti hantu. Ada juga  yang berwajah polos dan hitam, seperti katak yang sedang melompat-lompat, atau seperti binatang yang seram, yang akan menerkam saya.

Ketika saya berdiri, saya melihat pelayan-pelayan yang sedang membawa  nampan minuman, berjalan tanpa wajah. Ketika saya menengok ke kiri,  saya melihat beberapa pelayan perempuan yang membawa minuman tetapi  tidak berjalan, seperti melompat-lompat. Karena sangat ketakutan, saya  segera melarikan diri ke luar ruangan. Para satpam yang mencegat saya  terlihat bertanya-tanya, tetapi karena tak berani mengatakan bahwa  saya baru saja melihat setan, maka saya hanya mengatakan bahwa saya  sedang kurang sehat. Teman-teman yang menyusul saya ke luar ruangan  melihat bahwa wajah saya masih merah padam karena pengaruh obat. Jika  saya pulang dalam keadaan seperti itu, maka bisa dipastikan bahwa saya  akan over dosis, kemudian sesak napas, dan meninggal. Sejak saya  terikat dengan narkoba, istri dan anak-anak saya telah melarang saya  untuk menyetir sendiri. Tetapi malam itu, saya mengatakan kepada  teman-teman bahwa saya harus pulang saat itu juga.

Sesampainya di rumah, istri saya yang membukakan pintu. Sambil melihat  wajah saya yang masih merah padam, ia menanyakan tentang kepulangan  saya, yang kurang lebih pukul 01.30 itu. Saya menjelaskan peristiwa  yang saya alami dan janji yang saya ucapkan kepada Tuhan di diskotek  tadi. Dengan tidak percaya, istri saya mengatakan bahwa saya sudah  gila atau sedang mengalami paranoid. Biasanya, saya bisa fit selama  tiga sampai empat hari hanya dengan tidur selama satu hari karena  pengaruh obat. Tetapi pada subuh itu, saya langsung merebahkan diri di  tempat tidur dan terlelap.

Biasanya, sarapan pagi saya adalah sabu-sabu yang sudah siap untuk  diisap, tetapi pagi itu saya tidak ingin mengisapnya lagi. Sepanjang  hari itu, lebih dari lima kali saya keluar masuk karaoke untuk mengisap sabu-sabu, tetapi setiap kali saya berusaha melakukannya,  saya tidak ingin memakainya lagi. Biasanya, jika tidak mengonsumsi  sabu-sabu dalam dua hari, badan saya akan terasa tidak enak dan tulang-tulang saya terasa sangat sakit. Tetapi anehnya, saat itu sudah  hari keempat saya tidak mengonsumsi sabu-sabu dan badan saya tidak  terasa sakit seperti biasanya.

Beberapa hari kemudian, istri saya mengajak saya pergi ke rumah sakit  untuk direhabilitasi (cuci darah-urine). Setelah disuntik dan diinfus,  saya tidak sadarkan diri selama tiga hari. Pada hari yang keempat,  saya mulai siuman, tetapi seperti terkena parkinson. Kaki dan tangan  saya tak berhenti bergetar.

Melihat keadaan saya yang seperti itu, keluarga membawa saya untuk  diperiksa oleh dokter saraf dan psikiater. Setelah diberikan terapi  namun belum mendapat kesembuhan juga, pada akhir Desember 2000 saya  dibawa oleh anak dan istri saya berjalan-jalan ke Eropa. Sebenarnya,  saya tidak ingin ikut bersama mereka karena keadaan badan saya yang  belum sembuh. Tetapi karena mereka sudah membeli tiket dan saya tak  ingin mengecewakan mereka, akhirnya saya ikut juga. Pada hari pertama  tiba di Eropa, saya dibawa untuk melihat-lihat bangunan gereja. Saya  sempat menggerutu bahwa kalau hanya ingin melihat gereja, di Surabaya  pun banyak gereja dan bangunannya jauh lebih bagus daripada di situ.  Keesokan harinya, walaupun saya menggerutu, ketika mereka kembali  membawa saya melihat suatu gereja, saya ingin berlama-lama tinggal di  gereja itu. Setelah satu jam berlalu, istri dan anak-anak mengajak  saya keluar dari gereja itu. Karena masih ingin berada di gereja itu,  saya mengatakan kepada istri saya dan pemimpin rombongan untuk keluar  terlebih dulu, dan saya akan menyusul mereka lima menit kemudian.  Dalam waktu lima menit itu, tiba-tiba Tuhan mengingatkan saya pada  janji yang saya ucapkan pada Tuhan, bahwa saya akan bertobat dan datang ke gereja.

Di dalam gereja itu, saya berjanji bahwa sepulangnya dari Eropa, saya  akan bertobat dan mau ke gereja. Saya juga mau dibaptis. Tiga sampai  empat hari kemudian, istri dan anak-anak saya mengatakan pada saya  bahwa badan saya sudah tidak bergetar-getar lagi. Saya menjawab mereka  bahwa Tuhan Yesus-lah yang telah menyembuhkan saya.

Saat berada di Surabaya, kami sekeluarga menyerahkan diri pada Kristus  dan telah dibaptis dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Seiring dengan  pertobatan tersebut, Dr. Hendro Gunawan dan kawan-kawan dari FGBMFI  Kertajaya Chapter Surabaya membimbing kerohanian saya. Dalam sebuah  outreach meeting, mereka mengajak saya untuk bergabung menjadi anggota  FGBMFI. Sekarang, bukan hati saya saja yang semakin dipenuhi dengan  sukacita dan damai sejahtera oleh Tuhan, melainkan bisnis dan keluarga  kami pun dipulihkan hingga bertambah harmonis.

Soedono Wijaya sekarang menjadi anggota FGBMFI Chapter Surabaya.  Pengusaha otomotif dan garmen di Jasmin Jaya ini, bersama istrinya,  Christina Irani, serta anak-anaknya, Tommy W., Fera Carolina W., Hendry W., Denny W., dan Jeanifer Yasmin W., bergereja di Mawar Sharon  Surabaya.

Diambil dari: Judul buletin: SUARA (Full Gospel Business Men`s VOICE Indonesia)

Kumpulan Kisah Nyata:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar