Kamis, 14 Juni 2012

Selamat dari tangan Organisasi Papua Merdeka

“...dan tangan Allah kami melindungi kami dan menghindarkan kami dari 
tangan musuh dan penyamun.” (Ezra 8:31)

Pada tahun itu, OPM sangat banyak berkeliaran. Mereka pada dasarnya tidak setuju bergabung dengan Republik Indonesia. Tak jarang mereka melakukan berbagai penyerangan bersenjata yang tentu saja amat membahayakan. Sebagai dokter penugasan pemerintah, Drg. Tjipto seringkali harus melakukan kunjungan-kunjungan ke berbagai daerah bersama team dokter lainnya. Daerah yang sering dikunjunginya adalah pulau-pulau sekitar Biak Numfor dan Serui.

Suatu malam, ketika ia bersama team medis lainnya sedang berada di atas perahu kecilnya, tiba-tiba perahu itu ditembaki oleh orang-orang OPM. Perahu berukuran 1x5 meter dengan mesin ganda itu menjadi sasaran penembakan dari darat. Mereka mulai panik karena dilemanya sangat sulit. Jika mendarat pasti akan dibunuh, jika terus dan perahu bocor pun juga akan mati tenggelam.

Dalam keadaan begitu kritis, hamba-Nya ini bertanya kepada Tuhan apa yang harus dilakukan. Dan Tuhan berkata bahwa mereka harus mendarat. Segere dia berkata bahwa mereka harus mendarat karena Tuhan telah mengatakan hal itu. Pada saat tiba di darat, dari arah pantai terdengar teriakan orang-orang OPM : “Republik...! Potong....! Potong....! Potong..!” Mereka bermaksud membunuh rombongan itu karena mereka adalah warga Republik Indonesia.

Tanpa berpikir panjang, dibentaknya mereka dengan keras: “Potong, potong,...kata Drg. Tjipto ...apa kamu pikir gampang?! Yang punya hidup kami adalah Tuhan, bukan kalian, tahu!!”

Disaat demikian genting tiba-tiba dari kejauhan terdengar seoarang berteriak: “Jangan ganggu dia! Dia dokter hamba Tuhan!” Semua mereka terkejut. Ternyata orang tersebut adalah narapida yang melarikan dari penjara. Ia seorang perawat yang kemudian di angkat oleh OPM menjadi menteri kesehatan mereka. Dan laki-laki itu masih megenali Drg. Tjipto yang setiap minggu melayani sekali dipenjara itu. “Jangan takut dokter, dokter hamba Tuhan yang berbuat baik untuk orang Irian”: pesanya sebelum berpisah.

Perlindungan Tuhan sungguh luar biasa. Sekaligus mengajar kita bahwa tidak ada yang kebetulan dalam kehidupan kita bersama Yesus. Semua yang Tuhan perintahkan, pasti akan ada manfaatnya di kemudian hari yang membawa kepada kemuliaan NamaNya.

Firman Tuahan berkata: “Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.” (Mazmur 27:5-6)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar