Rabu, 23 September 2015

Pengungsi Dari Timur Tengah Masuk Gereja di Jerman

Ribuan pengungsi Timur Tengah yang tiba di Jerman dipandang sebagai dua sisi berlawanan oleh negara Uni Eropa. Di satu sisi, Eropa menghadapi ketidakmampuan dalam menahan arus deras peningkatan pengungsi dan di sisi lain banjirnya pengungsi berdampak signifikan dengan peningkatan jumlah jemaat di sejumlah gereja di Jerman.

Seperti dikutip dari Satuharapan.com, Jerman sedang mengalami lonjakan pengungsi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan jumlah imigran yang mencapai 800.000 orang. Para imigran ini datang dari negara-negara yang tengah dilanda perang saudara, seperti Irak, Afghanistan, Pakistan, Suriah, Sudan Selatan dan Libya. Adapula yang datang dari negara jauh seperti Rostock di Laut Baltik. Namun untuk mendapatkan hak tinggal atau suaka, pengungsi harus tetap memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah. Salah satu yang mereka lakukan adalah dengan mengubah keyakinan dengan mengikuti ‘kursus kilat’ agama Kristen demi mendapatkan suaka tersebut.

Meskipun motivasi para pengungsi ini tidak murni, namun gereja Jerman yang tengah menghadapi kemerosotan jemaat tetap terbuka menyambut para pengungsi.  Gereja Berlin’ Evangelical Trinity, misalnya, mengetahui bahwa banyak imigran yang menjadi jemaat gereja hanya untuk mendapatkan suaka tetapi gereja tetap menerima dan membaptis mereka. “Saya tahu orang-orang datang ke sini karena mereka berharap memperoleh suaka, tapi saya tetap membiarkannya karena saya percaya pada mereka,” kata Pendeta gereja Evangelical Trinity, Gottfriend Martens, seperti dilansir Theglobejurnal.com, Sabtu (5/9).

Martens justru menilai hal itu sebagai ‘mujizat’ bagi Jerman yang tengah menghadapi kemerosotan penganut Kristen. Setidaknya 80 orang jemaat baru Trinity adalah imigran yang berasal dari Iran dan beberapa warga Afghanistan, dan tengah menunggu dibaptis.

Selain gereja Evangelical Trinity, gereja Lutheran di Hannover dan Rhineland juga telah melaporkan peningkatan jemaat asal Iran. Tidak ada jumlah yang pasti terkait banyak imigran yang telah menjadi jemaat di salah satu gereja di Jerman beberapa tahun belakang ini. Tetapi jumlah itu masih mengalahkan sebanyak empat juta Muslim di Jerman.

Kendati begitu, salah satu keluarga pengungsi bernama Mohammed Ali Zooobi dan istrinya Afsaneh asal Iran membantah telah masuk Kristen demi memperoleh suaka. Ia mengaku sudah menjadi Kristen secara diam-diam sejak berusia 18 tahun. Ia memutuskan untuk melarikan diri ke Jerman setelah teman Kristen lainnya ditangkap, dan setiba di Jerman ia masuk gereja Trinity dan baru saja dibaptis pada Minggu (29/8) lalu. “Sekarang kami bebas dan dapat menjadi diri kami sendiri. Yang paling penting saya sangat senang bahwa anak-anak kami akan memiliki masa depan yang baik di sini dan bisa mendapatkan pendidikan yang baik di Jerman,” terangnya.

Kendati lonjakan pengungsi ini dianggap baik bagi gereja Jerman, tetapi negara-negara Eropa menyadari bahwa penampungan imigran di negara-negara Eropa ini akan menjadi masalah besar ke depan.

Sumber : Satuharapan.com/jawaban.com/ls

>>> Berita Keselamatan Harus Disampaikan <<<

Kumpulan Kisah Nyata:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar